Anak Demam Di Awal Pandemi Covid -19

Anak Demam

Anak Demam. Maret 2020 ketika awal berita COVID-19 ( Corona Virus Desease ) mulai mengemuka di berbagai media, bertepatan dengan Emil sedang demam dan pak suami sedang keluar kota. Belum ada pemberlakuan PSBB ketika itu.

Sejak demam itu Emil mulai berhenti bersepeda dan main di luar rumah.

Jangan Khawatir Anak Demam. Ini Hal Penting Yang Harus Dilakukan.

Hampir seminggu lamanya saya hanya berdua saja dengan Emil ( 4 th ). Yang saat itu sedang demam. Pertolongan pertama saat itu adalah :

  1. Kompres air suhu biasa
  2. Obat panas ( tersisa setengah di lemari )
  3. Makanan dan susu
  4. Memandikan / menyeka dengan air hangat
  5. Dirumah aja ( hindari tempat ramai )
  6. Skin-to-skin untuk menurunkan suhu tubuh
  7. Memakaikan pakaian yang nyaman dan tidak tebal
  8. Berdoa

Anak Demam Tetap Berpikiran Positif. Tapi Bukan Abai.

Sempat tersirat kekhawatiran Emil terkena COVID-19. Sampai-sampai saya menyimpan call center penanganan COVID-19 di Surabaya. Saya dapat kontak tersebut dari Radio Suara Surabaya yang sedang menyiarkan informasi tentang Virus Corona.

Baca juga : Anak demam susah minum obat

Jadi kontak ini dimaksudkan untuk mendeteksi secara mandiri, apakah kita sebaiknya harus masuk perawatan atau cukup melakukan isolasi mandiri. ini dimaksudkan agar kapasitas RS tidak membeludak dan benar benar menangani pasien yang  membutuhkan penanganan tim medis.

Disamping itu, saya selalu berusaha untuk berpikiran positif dan selalu memantau terus perkembangan demamnya.

Berikut hal hal yang membuat saya tidak terlalu khawatir terhadap demam yang di alami Emil saat itu.

  1. Masih mau makan dan minum walau sedikit.
  2. BAB dan BAK normal
  3. Masih merasa makanan / minuman
  4. Tidak rewel dan Bisa diajak ngobrol ( Walau Emil sakit nih anak masih demen banget ngobrol dan bercerita apa aja)
  5. Tidak lemas dan pucat

Demam Anak Mereda Saya Kebingungan

Lho demam anak reda kok ibuk kebingungan, jadi begini..

Hari kedua panas Emil sudah berkurang, sudah mulai banyak gerak.Namun flu belum kunjung reda. Karena bosan di kamar Emil memilih tiduran di sofa. Yang bikin saya bingung persediaan bahan makanan mulai menipis.

Namun gak tega juga ninggalin bocah kecil ini sendirian di rumah dalam keadaan sakit. Tetangga samping rumah juga gak ada.

Bagaimana ini, agak bingung juga ketika itu.

Masker Buatan Ibuk

Rencana nekatnya adalah saya ajak emil ke warung. Agar ingus dan ludahnya tidak menyebar. saya pakaikan masker kain ukuran anak anak. Masker kain ini saya jahit dadakan dengan kemampuan jahit  yang pas pasan.

Oiya Ketika itu belum ada kewajiban dari pemerintah untuk memakai masker ya. jadi saya kewarung ketika itu gak pake masker.

masker anak
Masker anak yang enggak banget.

Tapi akhirnya urung saya ajak ke warung karena tiba tiba hidungnya meler dan bersin berkali kali. Sempat muntah namun hanya sekali.

Bingung lagi deh saya. Hedehhhh kebanyakan bingungnya nih ibuk.

Singkat cerita, negoisasilah saya dengan si bocah yang terbaring lemas di kasur ( setelah saya bersihkan badannya saya pindahkan ke kasur )

“ Emil ibuk tinggal sebentar ke warung ya..gak papa?”

“ hmmm..sebentar yaaa”

“ iya sebentar aja..di warung Buk Sugeng” Warung tempat saya belanja ini jaraknya gak jauh banget kira kira jarak  6 rumah.

Secepat kilat, setengah berlari saya meluncur ke warung , berbelanja bahan dapur. Untungnya warung tidak terlalu ramai. hanya ada dua orang yang mengantri di sana

“ Buk minta tolong saya duluan nggih..Emil sakit dan saya tinggal sendirian “

Syukurnya mereka paham. Segera pulang lah saya.

Alhamdulilah menginjak hari ke Empat panasnya mulai reda, walau agak semlenget dan tidak lagi muntah hanya sekali pada saat itu. Malam pun tidak ada tanda demam akan kembali lagi.

Tenang lah hati ibuk.

Alhamdulilah bertepatan dengan pulangnya pak suamik. Emil mulai sehat dan lincah kembali makanpun  mulai lahap.

Untuk kelanjutan masker kain yang saya buat . akan  saya ceritakan di postingan selanjutnya.Terima kasih sudah membaca. semoga bermanfaat.

Daaaaaaaghh!

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *