Berkunjung ke Bali Utara

Catatan Kaki

KA. Mutiara Timur Siang yang kami tumpangi mulai meninggalkan Stasiun Sidoarjo. Hari ini kami menuju Bali, tidak untuk liburan, tapi berkunjung kerumah mertua dan saudara yang tinggal di sana.

Karena daerah asal suami dekat dengan pantai dan lautan, maka hiburan kecil kami sedikit mengisi waktu luang adalah jalan  dan blusukan mencari area pantai yang direkomendasikan oleh saudara.

Sebagian dari cerita ini merupakan dokumentasi dari 1 atau 2 tahun lalu, tapi juga ada dokumentasi yang baru saja kami lakukan di bulan January ini.

Baca juga : Naik Kereta Api Menuju Bali

6 jam perjalanan menggunakan kereta, 1 jam lamanya menggunakan kapal feri penyeberangan dan 40 menit perjalanan menggunakan mobil, sampailah kami di Bali tepatnya di Desa Gerogkak – Buleleng. Ketika sampai rumah saya gak berpikir nanti akan berwisata kemana, ya udah nikmati saja alam pedesaan di Bali Utara.

Sedikit cerita daerah tempat mertua saya tinggal ini jauh dari hiruk pikuk perkotaan, kalau mau ke kota seperti Singaraja bisa jadi membutuhkan waktu  kurang lebih 2 – 3 jam berkendara jika tidak macet.

Baca juga : Abang Becak PHP

Rumah  mertua saya ini dekat sekali dengan jalan besar, kendaraantidak ada berhentinya berlalu lalang dari pagi sampai pagi lagi, maklum jalan depan rumah ini menjadi perlintasan antar kota dan pulau, biasanya mereka yang lewat jalan ini kebanyakan akan menyeberang menggunakan feri di pelabuhan Gilimanuk. Eh tapi gak selalu ke Gilimanuk aja kan ya, hehe.

Uniknya, uniknya apa hebatnya ya? ‘hebat’nya lagi para pengendara motor yang berlalu lalang di sana kebanyakan gak pakai helm sebagai pengaman kepala mereka, padahal kalau saya lihat kendaraan yang lalu lalang di sana ukurannya besar besar dan laju, bagi saya yang bukan penduduk sana sih sih serem, saya gak berani lah melaju pakai motor tapi gak pakai helm.

Daerah tempat suami saya lahir ini, mayoritas penduduknya Muslim walaupun begitu umat Hindu Bali tetap hidup berdampingan satu sama lainnya. Sedikit ke barat ada tempat Ngaben, biasanya mereka yang meninggal akan dingaben di sana.

sekitar 1 kilometer dari tempat pengabenan ada pasar kecil, namanya Pasar Goris, di situ beragam makanan dan bahan pokok di jual, walaupun menurut saya sih tidak sebanyak dan selengkap pasar di Jawa.

Pantai Mimpi.

Nah ini, dari arah pasar kalau ke barat lagi kita akan menemukan sebuah Resort Mimpi di dekat resort ini terdapat pantai yang tidak terkenal seperti pantai pantai di Bali pada umumnya, yang sudah terkenal sampai mancanegara, turis yang kesini pun juga jarang banget, kebanyakan yang berwisata ke sini adalah penduduk lokal.

Jalan masuk menuju Pantai Pasir Putih atau Pantai Mimpi begitu orang sana menyebutnya, gak user friendly . Jalannya becek, pasir dan berbatu batu, kiri kanan juga masih semak belukar dan padang rumput jadi yang ingin kemari dan baru pertama kali  ada baiknya banyak bertanya , dari pada tersesat.

Kalau kesini jangan malam malam karena tidak ada lampu penerangan sama sekali kecuali lampu rumah penduduk yang jauh sekali letaknya.

Pertama kali kesini tahun 2014, pasir pantai masih putih dan bersih dan jarang pengunjung, tahun berikutnya kesini terlihat ada pembangunan villa dan café,  sudah mulai terlihat sampah walau sedikit, pohon kecil yang terlihat di gambar ini sudah tidak ada.

Untuk tiket masuk 2000 rupiah itu tahun 2016 entah sekarang apakah sudah naik karena sudah makin banyak fasilitas yang dibangun, saya juga kurang tahu.

Kalau ingin mandi mandi disini juga bisa, di sini  disediakan tempat ganti dan toilet, main perahu perahuan juga ada tarif sekitar 20000 rupiah, mungkin bisa jadi berubah dan untuk fasilitas rekreasinya bisa jadi ikut bertambah

Pantai Pura Pulaki

Pantai selanjutnya letaknya sebelah Timur dari Pantai Mimpi, jarak cukup jauh, saya kurang tahu untuk nama pantai ini, jadi saya sebut saja pantai ini namanya Pantai Pulaki karena dekat dengan Pura Pulaki.

Dari arah barat, Pelabuhan Gilimanuk arahkan kendaraan menuju timur, kurang lebih 2 jam berkendara kalian bisa temukan pantai ini, pantai ini mudah sekali ditemukan karena letaknya di pinggir jalan dekat pura yang bersandingan dengan tebing tinggi dan jalan besar yang sedikit menikung, hati hati jika melintas disini karena banyak kera liar yang tak jarang mereka melintas mendadak.

Kalau kesini dan sekedar duduk saja untuk melepas lelah ada baiknya pilih tempat yang tidak menyendiri karena bisa di dekati kera yang berkeliaran di sana, cari tempat yang berkerumun orang banyak atau duduk dekat orang yang sedang berdagang.

Pantai Pemuteran

Nah pantai ini baru baru saja kami kunjungi kemarin, menurut saudara, pantai ini baru baru saja di perindah, sebelumnya tidak ada ayunan kayu di pinggiran pantai, disini terdapat pendopo dan beberapa tanaman yang dihias menarik sehingga cocok di jadikan spot untuk berphoto.

 

Yang berkunjung kemari juga masih jarang, hanya penduduk lokal dan beberapa wisatawan lokal, udara dan suasana pantai ini tenang dengan ombaknya yang santai.

Itulah sedikit cerita tentang jalan jalan kami di Bali Utara, semoga bisa jadi referensi bagi yang ingin berwisata ke Bali dengan destinasi pantai yang tenang dan santai tanpa gangguan.

Terimakasih sudah membaca .

” Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan ambil apapun kecuali gambar, jangan bunuh apapun kecuali waktu “

 

 

6 thoughts on “Berkunjung ke Bali Utara”

  1. Wiiih, yg pantai pura pulaki, sepertinya kalo banyak monyetnya aku bakal takut sih hahahaha.. Trauma di hinggapin monyet pas kecil :p.

    Belum prnh nih mba ke arah bali utara. Selama ini kan slalu tempat2 bali yg udh mainstream yg aku datangi. Pdhl kyknya enak juga ya sesekali k pantai yg masih sepi gini. Biar ga sumpek kalo orangnya kebanyakan, kayak di kuta.

    1. iya mba saya terkadang juga kurang nyaman kalau terlalu banyak orang khususnya di tempat wisata – hahaha iya mb banyak monyet liar, kalo kesana jangan menyendiri, duduk di tempat yang ramai orang, simonyet terkadang suka iseng heheh..:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *