Mendadak Traveling : Naik Kereta Api ke Bali #1

Catatan Kaki

Sejak berkeluarga dan punya anak, kami tidak pernah punya agenda wajib melancong keluar kota, nginep di hotel, staycation lah, ihh mana pernah. Eh tapi pernah sih suatu hari pak suami punya rencana akan mengagendakan liburan  setiap 2 – 3 bulan sekali…hahahaha..aseek.

Namun ternyata,tetep aja nihil.

Ya udah sih, mungkin dana juga belum ada dan jalan-jalan juga bukan prioritas yang utama, jadilah kami kebanyakan di rumah saja, kalaupun jalan jalan, ya seputaran wisata dalam kota.

Bonbin misalnya.

Lalu, kapan dong Travelingnya?

Karena kami berdua berasal dari daerah yang berbeda, maka kami memanfaatkan momen pulang sebagai usaha jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya, termasuk tempat wisata yang belum banyak orang tahu.

Perjalanan ini kami lakukan awal tahun 2017 lalu.

Menuju Bali.

Berawal  kabar dari rumah pak suami di Bali, kami disarankan untuk segera pulang, karena keluarga dari Pulau Sumatera yang sudah beberapa pekan menginap akan kembali ke kampung halaman.

Karena itu adalah momen, dimana semua keluarga yang telah berpuluh tahun lamanya bertemu, kami diharuskan untuk tahu agar silahturahmi tidak terputus.

“Kita harus pulang, enaknya kita naik apa ya ? bis atau kereta ?”

Dulu sewaktu awal-awal menikah dan suami menawarkan naik kereta api ketika akan pulang ke Bali, saya sempat bingung, naik kereta ke Bali?, bukannya Pulau Bali dan Jawa terpisah lautan yang begitu luasnya, terus kereta apinya lewat mana? keretanya ngambang di laut? atau ada terowongan di bawah laut?.

Dan memang, tidak ada kereta api sampai ke Pulau Bali, yang ada, adalah kita turun dari stasiun akhir Banyuwangi Baru dan lanjut menyeberang dengan naik feri.

“ Naik bis aja lah, kan enak langsung berhenti depan rumah, Eh tapi Emil belum pernah naik kereta, kita naik kereta aja berangkatnya, baru pulangnya naik bis, gimana? “

“ Oke!”

Pagi sekitar jam 8 pagi kami sudah bersiap di Stasiun Kereta Api Sidoarjo, kalau tidak salah ingat jadwal kereta api kami akan tiba sekitar pukul 9 pagi, barang bawaan kami tidak terlalu banyak tapi cukup berat.

Heuhh..udah kayak mudik aja.

1 tas kopor , 1 ransel dan 1 tas jinjing yang khusus berisi makanan dan minuman untuk mengisi perut selama perjalanan.

Walaupun kereta menyediakan makanan, bagi kami lebih afdol rasanya bawa makanan sendiri dari rumah, selain hemat paling tidak dengan membawa bekal kami bisa menghindari keengganan anak untuk makan makanan yang tidak dikenalnya dan  juga lebih mengenyangkan, apa lagi suami kalau makan lumayan banyak.

Tips. Bawalah camilan / makanan dan minuman sendiri dari rumah, lebih hemat.

Tiket Kereta Api Mutiara Timur kelas executive telah kami pegang, tiket ini kami beli beberapa hari sebelum keberangkatan, kalau tidak salah ingat harga tiket yang kami beli seharga Rp.150.000 per orang, kami pergi bertiga, namun kami cukup membayar biaya untuk 2 orang saja, karena anak usia dibawah 3 tahun tidak dikenakan biaya alias gratis, walaupun begitu kami tetap harus mendaftarkan nama anak ketika melakukan pemesanan.

Sambil menunggu kereta datang saya sempat keliling stasiun, biasa lah kegiatan emak emak ngikutin anak kecil yang mulai menggasing dari parkiran, pintu loket, ruang tunggu sampai tempat penurunan barang.

Sempat dicari pak suami karena sebentar lagi kereta kami akan tiba, pak suami mewanti wanti, agar tidak terlalu jauh dari ruang tunggu, tas dan segala perlengkapan jangan terpisah jauh, karena kereta nantinya akan sebentar saja berhenti di Stasiun Sidoarjo, mungkin tidak sampai 10 menit. sehingga kami harus segera bergegas.

“ sebentar aku mau ke toilet “
“ jangan lama lama”

Tips. Walaupun setiap gerbong kereta juga menyediakan toilet, ada baiknya untuk ke toilet stasiun terlebih dahulu, sebelum menaiki kereta, jangan ragu dan jangan menunda waktu untuk ke toilet, apalagi untuk perjalanan jauh, karena kereta tidak mungkin berhenti lama di setiap stasiun yang disinggahinya.

Tak lama setelah saya keluar dari toilet, kereta pun datang, dari kejauhan terdengar suara nyaring bel kereta, segera saja kami bersiap, pak suami dengan tas ransel dan kopornya sedangkan saya dengan tas jinjing yang saya sampirkan dilengan kanan dan Emil saya gendong ditangan kiri.

Tips. Jika mempunyai tas ransel dengan ukuran yang cukup untuk memasukan berbagai makanan dan keperluan sikecil, itu lebih baik dibanding dengan tas jinjing.  dengan tas ransel, tangan kita leluasa bergerak.

Penumpang yang saat itu tak banyak jumlahnya, juga bersiap siap, berdiri dan mengangkat tasnya,  laju kereta mulai melambat, beberapa awak kereta turun untuk membantu dan mengarahkan penumpang yang akan naik ke dalam gerbong.

Sebentar saja, kami sudah duduk dikursi kereta, dari awal sebelum memesan tiket, saya selalu menanyakan ke pak suami, untuk kursinya nanti apakah yang model satuan atau yang gabungan, karena kami membawa balita saya pikir kursi yang gabungan lebih baik, karena bisa sejenak untuk menidurkan anak tanpa harus memangkunya berlama lama.

Namun ternyata kursi yang kami dapat adalah kursi yang jenis satuan, tapi bagi saya sudah cukup nyaman karena sandaran bisa dimiringkan, terasa lebih empuk dan rileks ketika memangku balita, selain itu setiap kursi juga dilengkapi bantal kecil.

Terdengar pluit panjang dibunyikan, kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun Sidoarjo, tas ransel dan kopor,  sudah pak suami diletakkan di atas rak, sedangkan tas jinjing berisi makanan saya letakan di bawah kursi, biar gampang mengambilnya kalau perut mulai kelaparan nanti.

Perjalanan dengan kereta api ini kurang lebih sekitar 6 jam, jadi perkiraan lama waktu di dalam kereta sampai tiba di stasiun akhir Banyuwangi Baru, kira-kira menjelang sore hari.

Saat itu Emil terlihat tenang, ia seperti sangat menikmati pemandangan dari dalam kaca jendela kereta. Suasana gerbong juga tidak begitu ramai, bangku-bangku hanya diisi beberapa penumpang saja, sebagian sudah terlelap dengan selimutnya sebagian lagi sibuk membaca buku sambil asik makan kacang.

Tips. Bawalah kantung plastik kecil, untuk tempat sampah bekas makanan kita, agar kereta terjaga kebersihannya.

Saya senang dengan momen naik kereta ini,  mengingatkan saya pada awal-awal naik kereta bersama orang tua menuju rumah si-mbah yang ada di desa, ketika liburan sekolah tiba.

Kereta melaju kencang menimbulkan bunyi berderak yang beraturan, melewati rumah, sawah , bukit, jalan raya dan terowongan.

Hari semakin siang, kereta semakin melaju kencang, perut kami terasa mulai ingin diisi makanan, terlihat beberapa penumpang memesan makan siangnya pada pramugari kereta, semerbak wangi aroma bakso dan bistik daging tercium lezat, duh nikmatnya.

Tenang, kita punya makanan dalam tas bekal.

Saya pun mengeluarkan 1 kotak besar wadah makanan, di wadah ini sudah saya isi nasi, tumis sawi, kering tempe, dan tahu goreng. Untuk Emil sendiri saya buatkan puding dan nasi kentang jagung plus wortel.

Satu hal yang saya rasa tidak berubah ubah dari desain kereta api ini adalah, meja yang lebarnya tidak lebih dari jengkal tangan dewasa, sehingga hanya cukup untuk meletakan 2 gelas air minum saja.

Oh iya tidak usah khawatir batere handphone habis, karena kereta juga menyediakan charger di bawah meja penumpang.

Agar lebih nyaman untuk makan,  saya pindahkan Emil ke pangkuan pak suami, saya ambil serbet lebar yang saya bawa dari rumah, sebagai alas untuk meletakan kotak nasi di pangkuan saya.

Sendok saya keluarkan, satu untuk kami berdua dan satu lagi khsusus untuk Emil, dan kegiatan saya selanjutnya adalah makan sambil menyuapi Emil dan pak suami..haha.

Tips.Ada baiknya untuk membawa 1 wadah yang bisa diisi berbagai macam jenis lauk , lebih praktis dan tidak makan tempat, jangan lupa membawa lap atau tisu basah. Lauk sebaiknya yang keringan saja, untuk menghindari tumpah dalam tas dan kereta, selain itu juga lebih awet. Atau bisa juga membawa nasi bungkus, jika tidak mau ribet membawa wadah makan. selesai langsung buang, tentunya buang di bak sampah.

Kami masih duduk menikmati pemandangan dari dalam kereta, wadah makanan sudah saya tutup dan saya kembalikan kedalam tas jinjing, masih ada sebagian lauk dan nasi tersisa di dalamnya, masih bisa buat makan selanjutnya, siapa tau kita kelaparan lagi ketika tiba di pelabuhan.

Emil yang sudah kenyang, kembali tertidur di pangkuan bapaknya, cerita perjalanan menuju Pulau Bali masih berlanjut, banyak hal baru yang saya jumpai, mulai dari tukang becak yang php ( pemberi harapan palsu ) sampai mas mas bertato yang baik hati.

Terimakasih sudah membaca. 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *