Menjadi Ibu Rumah Tangga Rempong Yang Bahagia.

motherhood

Iiih.. udah rempong kok pake bahagia sih?
kalau mendengar kata rempong, itu adalah suatu hal yang ribet, serba repot, ruwet,rasanya kok jauh sekali dari kesan bahagia. Apalagi buat seorang Ibu rumah tangga, rempong sudah menjadi bagian dari profesi tersebut. Salah satu profesi mulia, yang belum tentu semua wanita mau melakukannya.

Saya adalah ibu rumah tangga dengan satu orang balita yang sangat aktif, kalau diajak main keluar maunya lari kesana kemari, suami dan anak  memanggil saya mamak, namun terkadang anak saya memanggil saya ibuk, bagi saya, mau dipanggil mamak atau ibuk itu tidak masalah, keduanya adalah panggilan penuh kasih sayang.

Dulu saya kira menjadi ibu rumah tangga (IRT) itu mudah, gak perlu lagi pergi ke kantor dan meeting tiap pagi, bertemu macetnya jalanan setiap hari, kalau jadi IRT kan enak cukup urus rumah, masak buat anak dan suami. Apa susah nya, sih?

Namun ternyata saya salah besar, menjadi IRT tidak semudah itu, IRT adalah profesi yang memerlukan hati, fisik, pikiran, keikhlasan dan kerelaan, yang mana semua itu tak cukup dibayar dengan uang dan bonus tunjangan.

Menikah, hidup berdua, jauh dari orang tua, jauh dari sanak saudara, menuntut kami untuk belajar madiri, tabah dan sabar dalam menempuh hidup baru .

Delapan bulan setelah menikah, kami dikaruniai seorang anak. Orang tua, mertua, saudara semua turut senang dan bersuka cita, mengirimkan segala ucapan doa dan selamat walau hanya dari ujung telepon dan layar handphone.

Yah, kami melakukan segala kerempongan dalam menyambut kelahiran buah hati hanya berdua saja, mulai dari kontraksi sampai masuk ruang operasi, saya hanya ditemani tim dokter dan suami. Meskipun tanpa sanak saudara yang menemani, kami sangat bahagia, Alhamdullilah anak laki-laki kami lahir ke dunia dalam keadaan selamat, sehat, sempurna tanpa cela.

Dan kerempongan sebagai ibu rumah tangga pun dimulai.

Siapa yang memandikan bayi? Siapa yang membantu saya merawat bayi? Siapa yang akan memasak? Membersihkan rumah? ART ( Asisten Rumah Tangga ) pun tidak punya, apalagi bekas operasi menuntut saya untuk tidak banyak melakukan aktifitas yang berlebihan.

Ditambah lagi si kecil juga perlu menyusu setiap waktu, membuat saya harus bangun tengah malam dan tak cukup isrirahat plus kesakitan yang luar biasa, ketika itu saya terkena radang, yang membuat sakit  hingga ubun ubun kepala, ketika menyusui tiba ( Mastitis )

Namun walau sakit melanda dan dengan cucuran air mata, saya tetap menyusui dengan keras kepala, karena menyusui bagi saya, adalah ungkapan cinta ibu terhadap anak untuk mendapat nutrisi terbaiknya.

Segala kerempongan ini membuat saya bingung, sangat bingung, apakah saya harus naik darah, menyalahkan keadaan karena memutuskan untuk hidup mandiri?

Alhamdullilah, semuanya ada solusi, bagaimana caranya ?

  1. Jangan sungkan untuk meminta bantuan, termasuk kepada suami
  2. Suami pahamilah kondisi istri, posisikan diri bagaimana jika menjadi istri.
  3. Kuatkan tekad, yakinkan diri bahwa kita mampu merawat buah hati dengan kasih sayang , agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang kita harapkan.
  4. Berdoa dan bersyukur, karena tidak ada daya upaya selain Tuhan YME

Kadang keadaan menuntut kita ‘terpaksa’ harus bisa, begitu juga dengan suami, pelan-pelan akhirnya bisa dan terbiasa  memandikan bayi, memakaikan pakaian, menggendong dsb. Sedangkan saya berhasil memberi ASI sampai si kecil berusia genap 2 tahun

Tidak malu suami mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga? Tidak, bagi saya itu adalah salah satu bentuk keromantisan suami dalam mencintai istri dan anaknya.

Oh iya ada ungkapan begini, tak kenal maka tak sayang,untuk tahu lebih dalam, seseorang perlu mengalami langsung, jika tidak bisa memasak seseorang mungkin dengan mudah mencaci menganggap remeh makanan, namun jika kita bisa memasak, bisa jadi kita lebih menghargai sebuah kerja keras dalam mengolah makanan tersebut.

Urusan pekerjaan rumah saya kerjakan sebisanya, makanan cukup dengan beli saja, sampai keadaan saya pulih seperti sediakala. terkadang juga dapat kiriman makanan dari tetangga, yang paham dengan keadaan kami berdua.

Itulah fungsinya kerjasama dalam rumah tangga, segala kerempongan lazimnya dalam berumah tangga dapat teratasi. Jangan ada gengsi, karena salah satu tujuan berumah tangga adalah untuk bahagia.

Saat ini  si kecil berusia 2,5 tahun, kerempongan tidak berkurang namun semakin meningkat, apalagi di tambah kesibukan saya yang tidak hanya di depan wajan saja, tapi juga di depan komputer dan gadget, mengurus dagangan online yang, Alhamdullilah sudah hampir setahun saya jalankan.

Mau masak si anak minta gendong, nulis artikel, update produk, balas orderan eh si anak minta pangku ingin juga ikut pencet-pencet tombol keyboard, mau photo produk dagangan, anak pengen ikutan pegang, menanyakan berbagai hal dengan bahasanya yang saya sendiri kadang gagal paham, sampai ngintilin saya dan nangis di depan pintu toilet pun dilakukannya.

“duh nak, ibuk cuman mau ke toilet, bukan pergi lewat pintu kemana saja atau terbang pakai baling baling bambu“

Ditambah lagi suara sumbang di luar sana yang mendadak lebih tahu tentang perkembangan anak, dengan membandingkan kemampuan anak tetangga sebelah, haduuuh rempongnya.

Kalau sudah begini menjadi seorang ibu juga harus pandai, strong, no baper dan Jangan sampai menyakiti hati anak dengan membandingkan kemampuan anak tetangga atau anak artis ternama, setiap anak itu istimewa, mempunyai perkembangannya masing-masing, fokuslah ke anak kita, pantau setiap perkembangannya, selalu beri apresiasi ketika anak melakukan hal-hal yang baik, cukupi keperluan gizinya dengan asupan makanan dan minuman yang sehat dan bermanfaat seperti GIzidat.

Memang menjadi ibu itu tidaklah mudah, pun juga tidak bisa menjadi ibu yang sempurna, tapi kita bisa menjadi ibu yang hebat, salah satunya adalah dengan memilih asupan terbaik untuk buah hati kita. Memilih Gizidat adalah salah satu pilihat terbaik bunda hebat, karena Gizidat adalah madu hutan alami, yang diramu oleh para ahli, dengan mengkombinasikan nutrisi ikan sidat yang terkenal baik untuk perkembangan otak, temulawak untuk penambah nafsu makan dan probiotik memperkuat sistem imun tubuh, sehingga baik  sebagai pendukung tumbuh kembang anak, rasanya juga lembut dan sangat disukai anak.

Bunda nikmati saja setiap proses kerempongan menjadi ibu, kerempongan kita mengurus buah hati kelak akan berbuah manis dan menjadikan momen yang tak akan bisa terulang, bahagia ketika melihat mereka tumbuh sehat, cerdas dan berakhlak mulia.

Yuk para suami bantulah istrimu, karena ia bukan upik abu,
Istrimu bagian dari tulang rusukmu.
Yuk para istri sayangi lah suamimu, cintailah anak-anakmu,
Karena mereka adalah tanggung jawab dan ladang pahala dunia dan di akhirat kelak.

#gizidatdiary #gizidatbikinbundamakinhebat  #bundahebat

kalau bunda bagaimana cara mengatasi kerempongan di rumah?? 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *