Sikap Orang Tua Ketika Anak Balita Mulai Bertindak Kasar

motherhood

Pernah gak sih kita jengkel sama anak orang, tapi demi menjaga sikap di depan anak kita dan orang lain keinginan untuk menghardik atau melotot ke arah anak tersebut menjadi sentuhan pelan dan ucapan lembut? saya pernah begitu, padahal hati masih gemes, duh!

Emil dijambak

Jadi cerita nya begini, seperti biasa saya membawa jalan jalan Emil keliling perumahan setiap sore atau pagi hari, saat itu umur Emil satu tahun setengah , karena kami tidak mempunyai stroller dan belum membelikan Emil sepeda roda tiga maka kami berdua jalan kaki santai saja di halaman perumahan. Tidak lama kemudian lewatlah seorang anak dengan pengasuhnya, anak tersebut naik mobil dorong berbahan plastik , usia anak tersebut sekitar 2 tahunan.

Secara spontan Emil yang waktu itu memang selalu penasaran tingkat tinggi, datang menghampiri anak tersebut, dengan cueknya Emil  memegang setiap detail bagian dari mainan anak itu, Emil tidak juga merebut atau memaksa naik, hanya memegang, maka saya biarkan saja.

“mas Deva, Emil pinjam mainan nya ya”

Seketika, anak yang punya mainan tersebut berteriak histeris tak ingin mainannya disentuh, berkali kali tangan Emil yang sedang memegang roda mobil plastik ditampik nya, dalam hati saya merasa khawatir, takut anak saya didorong atau dipukul. Karena melihat gelagat yang tidak mengenakan akan terjadi pada anak saya, saya tarik perlahan tangan Emil

“Ayo Emil kita jalan lagi, itu bukan punya Emil ya, yok sudah yaaa…makasih ya mas Deva”

Namun ternyata rasa penasaran Emil masih belum terpenuhi, Emil belum ingin beranjak, Emil masih ingin memegang setiap sudut mainan tersebut, lalu terjadilah . anak tersebut menampik tangan Emil lagi, tidak hanya itu ia pun memukul bahu emil dan menjambak rambut Emil.

Cengkraman anak tersebut semakin kuat di rambut Emil, Emil tak berdaya dan menangis, pengasuh anak tersebut pun mulai panik ia berteriak.

Emil saat itu hanya menangis tidak melawan, pasrah rambutnya dijambak anak tersebut, kepalanya juga sampai miring karena sangking kuat nya anak tersebut mencengkeram rambut Emil, Saya juga berusaha melepas cengkraman tangan anak tersebut dari rambut anak saya, jujur hati panas plus gemes dan jengkel, namun saya berusaha pikiran tetap dingin kalau saya bertindak kasar terhadap anak tersebut di depan Emil maka Emil akan mencontohnya atau anak yang menjambak tersebut semakin merasa benar dan melakukan perlawanan yang lebih hebat, bisa jadi urusan akan panjang kan.

Dengan suara lantang dalam hati saya teriak “AAACKKKKK..WOYYYYY..LEPASIN WOYYYY..MBAAK ANAKNYA INI LOH DI LIHAT!!!!”
Namun yang keluar dari mulut saya “ gak apa apa…Emil kuat kok ya..jangan nangis jangan nangis..yuk lepas yaa  udah yaa”

“mas Deva jangan kayak gitu ya, ini lihat kepala Emil sakit kan..yok dilepas yok..sudah yaaa”

Setelah lepas saya mengelus kepala Emil, memeriksanya apakah ada yang rontok atau terluka lalu menggendong nya pulang, sambil berkata “ tuh kan..yook kita pulang yaaa, itu punya nya mas Deva bukan punya Emil..punya Emil di rumah ya” –  ( maksudnya Baby Walker nya hehehe ) seketika Emil diam, saya turun kan dari gendongan lalu Emil saya tuntun pulang, sampai rumah panas nya hati, saya luapkan nyerocos ke suami, hahahahha.

Itu salah satu cerita saja dari saya dengan anak balita yang lebih sering terkena kontak fisik kalau sedang bermain bersama temannya, kontak fisik di sini adalah anak saya sering menerima perlakuan kasar oleh teman sebayanya seperti didorong, dipukul dan dijambak seperti tadi.


Kalau saya daftar perlakuan fisik oleh teman sebaya terhadap anak saya, dari umurnya yang masih setahun sampai sekarang diusianya 2 tahun ini, adalah sebagai berikut:

1. Dijambak.
2. Didorong.
3. Dipukul tangan dan dipukul menggunakan mainan

Namun dari kesemua perlakuan itu anak saya diam dan tidak membalas, kalau pun sampai menangis itu hanya sebentar lalu saya cup cup belalang kuncup, saya beri hal hal yang positif, lalu diam dan lupa masalahnya. Saya sempat berfikir kenapa anak saya tidak membalas dan cenderung diam, ngoceh pun tidak, apa anak saya ada gangguan? atau memang bawaan?

Baca : Apakah Anakku Speech Delay?

Eh tapi Emil pernah kok membalas namun hanya sekedar dorongan kecil di dada anak yang mengganggu tersebut, namun setelah itu Emil tertawa dan bermain kembali. Jujur ini bentuk perlawanan Emil pertama kali yang saya liat semenjak dia lahir.

 

Ah itukan wajar, namanya juga anak anak. Kalau bagi saya itu tidak wajar , masih kecil sudah begitu nanti kalau dibiarin saja dan kita anggap itu adalah hal yang lucu lalu terbawa hingga dewasa bagaimana? jadi anak yang suka membully kawannya?

Emil dikeroyok?

Pernah juga di suatu acara, saat itu Emil bersama bapaknya, Emil dengan damai dan sentosanya asik memainkan mobil mobilan, lalu kemudian datanglah seorang anak mungkin usianya lebih muda dari Emil, ia kemudian merebut mainan tersebut,namun Emil masih belum mau beranjak dari mainannya, pak suami yang menemani Emll bermain saat itu juga sudah mencoba mengajak Emil beralih kepermainan lain, belum sempat beranjak dari mainanya, belum sempat pak suami mengangkat Emil kemudian seorang anak yang mungkin lebih besar dari Emil datang dan hendak memukul Emil, untung tangan pak suami berhasil menahan, sehingga tangan anak tersebut tidak sampai mengenai Emil , menurut pak suami sepertinya mereka bersaudara.

Dengan pelan pak suami berkata “ eh jangan seperti itu yaa..” pak suami langsung mengangkat Emil dan menjauh, apalagi itu kejadian dekat dengan tangga. Duh bisa dibayangkan kan kalo ada anak balita saling berebut mainan, tanpa pengawasan lalu salah satu mendorong, pasti ada yang cedera, terjatuh dari tangga misalnya.

Saya yang mendengar pak suami menceritakan kejadian itu hanya bisa bilang “ duh! Kok begitu..jadi ibaratnya Emil dikeroyok gitu, oh my god!! “

Pernah juga Emil didorong sampai terluka kakinya, hanya karena Emil tertarik dan mengikuti seorang anak naik mobil mobilan batere mungkin usianya sekitar 5- 6 tahunan. duh padahal kita habis jalan satu kilo loh mil dari pasar, masih aja kuat ngikutin anak main mobil mobilan, salah satu temannya bertindak sebagai pengatur jalan, Emil pada saat itu mengikuti dari belakang dengan ekspresi kegirangan, namun tiba tiba Emil ditahan oleh salah satu anak yang bertindak sebagai pengatur jalan,  anak tersebut mendorong ke samping badan Emil dan saat itu juga Emil terjatuh dan lututnya luka terkena paving, tapi baiknya adalah anak tersebut langsung membantu Emil berdiri setelah tau ada saya ibunya yang merangkap sebagai bodyguard, oh iya sebelum itu anak yang naik di dalam mobil mainan tersebut juga hampir mau menabrak Emil, kalau saja saya tidak menegur.

“duh nak”

Cerita lainnya lagi kalau ini memang bukan perlakuan fisik namun sikap gak relaan anak lain, pernah Emil sedang main sepeda kelincinya, kebetulan ada anak seumuran bermain sepeda juga, anak tersebut mendatangi Emil, mungkin lihat sepeda nya Emil lucu kali ya, Emil pun turun karena juga penasaran sama sepeda yang dimiliki anak tersebut, si anak megang sepeda Emil, Emil megang sepeda anak tersebut, apa yang terjadi si anak tidak rela, ia hendak mengambil sepedanya, akhirnya saya sebagai ibunya pun menengahi

” ya udah emil main sepeda nya sendiri aja ya” dan Emil pun beralih ke sepedanya

Si embak pengasuh juga membantu menengahi, namun apa daya si anak tetap gak rela dan semua adalah miliknya, termasuk sepeda Emil.

Cukup lama Emil dan anak tersebut mondar mandir pindah kesatu sepeda ke sepeda yang lain. satu gak rela, satu mencari alternatif lain akhirnya saya putuskan mengajak Emil pulang dengan menjelaskan sepedanya mau dipinjam dulu, sambil nunggu sepeda dikembalikan kita makan roti di rumah, yuk. dan Emil mengiyakan, Malamnya si mbak pengasuh mengembalikan sepeda Emil.

Kenangan Masa Kecil

Kalau melihat perlakuan anak-anak yang cenderung bersikap kasar, membuat saya jadi teringat dulu waktu itu saya  masih TK, diajak ibu kepasar, sambil menunggu ibu saya memilih milih barang di etalase toko, saya melihat lihat sekitar, tak sengaja mata saya tertumbuk pada anak perempuan yang juga bersama ibunya, saya melihat kearah anak tersebut namun anak perempuan tersebut dengan wajah tak bersahabatnya memandang juga kearah saya sambil mengangkat tangannya, saya pun memalingkan muka, tak disangka ternyata anak tersebut mendatangi saya dan punggung saya dipukul dari belakang, saya tidak melawan, saya hanya semakin merepet ke ibu saya dan berbisik “bu aku dipukul”.

Mengajarkan Anak Meminta Maaf

Lain hal dengan cerita yang ini. Seperti wajarnya anak anak kalau lihat mainan dan teman baru pasti bawaanya ingin bermain, tapi kadang ya ujung ujungnya rebutan lalu nangis. Saat itu Emil memang bermain bersama, sebut saja namanya Rafael, Rafa ini umurnya lebih tua 2 tahun dari Emil.

“ sudah sana mainan sama-sama ya jangan rebutan, adiknya kasih pinjam mainan” ucap ibu Rafa

Dan mereka pun bermain bersama sementara kami ngobrol di ruang tamu, namun tiba tiba Emil nangis, usut punya usut ternyata si Rafa memukul kepala Emil menggunakan truk plastiknya.

“Rafa mukul kepala Emil buu..” ucap pengasuh nya yang saat itu menemani mereka bermain, saat itu Rafa langsung terdiam, Emil langsung saya gendong.

“Rafa sini!” ibunya tidak berteriak namun ada nada tegas dari suaranya “ngaku ke mami, kamu apakan Emil!?” Rafa masih diam

“ngaku..sama mami ayok, kalau tidak, masuk kamar tutup pintu, diam disana” pelan dan lirih Rafa mengaku “ Rafa pukul pake ini “ sambil tertunduk .

“gak baik seperti itu..ayok sekarang minta maaf sama mami, sama Emil, sama om dan tante “

Tapi Rafa menolak, kembali ibu nya menawarkan Rafa untuk masuk kamar . dan pada akhirnya sambil menangis Rafa menjabat tangan kami dan tangan Emil.

”maaf kan Rafa om, tante “

“ minta maaf ke mami juga..bilang Rafa tidak akan mengulanginya lagi mami”

Dan gak hanya itu ibu Rafa juga meminta maaf ke kami “ aduh maaf loh yaa kelakuan nya si Rafa saya gak tau kok bisa dia suka mukul seperti itu “

“ohh ga papa mba, Emil juga udah diem” kata suami saya saat itu

“ Eh..jangan dia harus minta maaf, kalau gak diajarin begitu nanti kebiasaan mukul  temannya“

Perkara selesai mereka kembali akur dan bermain bersama.

Perilaku Keluarga di Rumah.

Saya bukan ahli psikologi namun dari semua kejadian di atas saya beranggapan, perilaku anak yang seperti menjambak, merebut,memukul,berteriak histeris karena takut barang nya diambil dan lain sebagainya saya rasa adalah hasil meniru. Bisa dari keluarga atau tontonan nya.

Menurut pandangan saya, di kehidupan sehari hari anak yang berteriak dan memukul tersebut  sepertinya mencontoh salah satu dari perilaku dalam keluarga, kadang saya melihat seperti neneknya atau pengasuhnya tersebut  suka meneriaki si anak kalau lagi menyuapi seperti “AYOK MAKAN SINI!!” atau kalau si anak jahil lari kesana kemari sang pengasuh tak segan berlagak seperti hendak melempar sandal “JANGAN KESANA!!!” atau ” PUKUL KAMU YA!!, AYOK PULANG MANDI!” kadang juga menakut nakuti hal yang gak jelas seperti  ” awas ada hantu, awas ada orang gila dsb.” atau sang kakak terkadang suka merampas mainan adiknya sampai menangis dan berbicara tinggi serta tidak menghargai jika berbicara kepada pengasuh atau orang yang lebih tua seperti neneknya. Oke deh cukup.

Apakah Emil Pernah Memukul?

Pernah ketika itu usia emil 12 bulan, tapi dia lebih memukul benda seperti pintu, meja atau lantai, usut punya usut ternyata perilaku nya tersebut mencontoh dari ibu saya. Setiap Emil terjatuh atau terbentur dan kebetulan ada ibu saya duduk disana maka ibu saya akan langsung berkata demikian .

“ ooh..sakit yaa..ini nakal ini meja nya yaa..pukul..” sambil memperagakan memukul meja, otomatis dong Emil ikutan mukul meja, memang sih si anak langsung diam tapi setelah itu berlanjut kalo setiap jatuh tersandung atau kejedut yang dipukul bendanya. Segera saja saya berusaha meluruskan dengan sebab akibat, bukan menyalahkan benda sekitarnya.

“ kalau Emil jatuh, yang salah bukan meja nya atau kursinya, yang salah Emil gak hati hati kalo jalan, sini mana yang sakit, diobati dulu “

Entahlah Emil paham atau tidak yang penting saya tidak melanjutkan peragaan memukul benda untuk mendiamkannya dan secara perlahan saya coba beritahu ke ibu saya bahwa jangan ajarkan Emil untuk menyalahkan benda sekitar apalagi memukul, karena Emil akan meniru, untung nya adik saya juga membantu menjelaskan ke ibu saya.

Setelah itu Emil tidak pernah memukul walau dia jatuh, paling hanya nangis dan minta gendong atau peluk, lalu diam.

Emil Tidak Pernah Melawan

Dari semua sikap yang anak saya terima, saya tidak pernah melihat anak kami melawan atau gak rela sampai teriak histeris ketika mainan nya diambil atau dipinjam kawannya.Saya kurang paham untuk hal ini kenapa Emil  hampir tidak pernah melawan kawan mainnya,apakah karena bawaan lahir atau memang kebiasaan kami di rumah.

  1. Sebagai cerita kami tinggal hanya berdua saja, jauh dari orang tua dan sanak keluarga, saya termasuk jarang keluar rumah paling hanya sekedar nya saja tidak sampai rumpi manis sana sini, sehingga kesempatan bermain Emil dengan anak sebayanya di perumahan pun secukupnya saja, tapi tidak kuper loh ya..hihhihi..
  2. Pak suami itu orang nya termasuk sabar, dibanding saya yang biasanya emosian apalagi waktu datang bulan. Pernah saya kesel sama Emil..ah kesel lah biasa ibuk ibuk, udah capek plus diriwuki anak kecil, woahh tangan ini sudah gemes aja pengen mendarat cantik di badan Emil, namun akhirnya gak jadi, saya pilih masuk kamar tutup pintu rapat rapat , Emil menangis sekencang kencang nya di depan pintu, pak suami ambil alih. Sementara saya meredam emosi dalam kamar, setelah emosi turun saya lalu keluar kamar, mendatangi Emil dan peluk.
  3. Kami dirumah selalu berusaha mengajarkan Emil untuk berbagi, semisal “ bagi dong kue nya ke ibu, enak ya kue nya” atau bisa juga saya makan kue, saya bagi setengah kue itu ke Emil dan separuh lagi saya suruh kasih ke bapaknya.
  4. Selain itu kalau lagi bermain bersama temannya dan mainannya dibawa dan dia gak rela ngasih, kami selalu bilang “ Emil masih ada satu di rumah , itu pinjamin dulu ke adeknya ya, nanti dikembalikan kok” dan Emil memberikan begitu saja. Jadi ada alternatif barang lain sebagai pengganti, walau tidak sama tapi menyerupai.
  5. Emil pernah kesal, marah dan sampai memukul saya ketika maksudnya tidak dipahami oleh kami,saya tawarkan ini itu tetap tidak mau akhirnya kami biarkan dia nangis guling guling di lantai. Saya dan pak suami cukup memperhatikan saja jangan sampai kepalanya terbentur benda tajam. Selang beberapa menit ketika tangisnya agak reda saya tawarkan makanan kesukaanya dan dia bilang “hooh” lalu komunikasikan tentang perbuatannya. Perkara selesai. Kami tidak meneriaki Emil, tidak membalas untuk memukul nya, tidak memanjakan dengan langsung ditimang timang saat itu juga dan Emil terluapkan emosinya.
  6. Kami mempunyai tingkatan hukuman untuk Emil yang sekarang sudah menginjak usia 2 tahun yaitu jika dia membandel yaitu cubit besar ( karena ini tidak sakit ), ancaman tidak dibelikan mainan atau diajak jalan jalan dan yang terakhir masuk kamar,tutup pintu. Kami berusaha untuk menghindari memukul, berteriak dan memanjakan dengan sesuatu agar Emil diam.
  7. Kami tidak pernah menggoda Emil seperti mengambil barang kesukaannya ketika dia dalam kedaan tenang dan baik baik saja, seperti “ ibu ambil yaaaa..ibu ambilll yaaa…bawa lari ah” paling hanya “ ibu boleh pinjam?..bagi satu donk” paling dijawab emil “ otteeee..”.
  8. Kami berusaha tidak meneriaki Emil, tidak selalu menyalahkan apalagi menakut nakuti dengan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Kami biasanya memberikan alasan yang masuk akal kenapa ia dilarang main dengan piring kaca atau tidak boleh main terlalu jauh, misal “ Emil jangan mainan piring nanti kalau pecah kamu terluka, kalau terluka maka akan sakit, berdarah terus aduhh dan dibawa kedokter mau?” dan emil jawab “ndak mau”
  9. Kami tidak pernah mengabaikan dalam waktu lama ketika Emil meminta sesuatu atau merasa tidak nyaman, jangan sampai ia berteriak hanya untuk mencari perhatian.

Saya memang  khawatir Emil terluka ketika ia terlibat kontak fisik dengan anak seumuranya,tapi  saya lebih takut anak saya mencontoh perilaku kawannya tersebut dan melukai orang lain. Semoga saja seiiring berjalannya waktu dan bertambah umur nya Emil bisa mempertahankan untuk tidak melawan dan menjauhi bersikap kasar pada temannya., kecuali benar benar terancam dan membahayakan.

Menurut saya anak kecil itu hanya mencontoh perilaku orang dewasa di sekitarnya, belum paham bahwa memukul, menjambak dan lain sebagai nya dapat melukai orang lain,  dan sikap kita sebagai orang tua bagaimana bersikap yang baik di depan anak anak kita.

Malamnya saya ngobrol sama Emil yang sedang tertidur

“ Nak , ntar kalo kamu udah besaran, ibu masukan kursus karate ya..tapi ingat kalau sudah jago karate jangan semena mena “

 

2 thoughts on “Sikap Orang Tua Ketika Anak Balita Mulai Bertindak Kasar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *