Menyapih, Menyedihkan Namun Harus Dilakukan

motherhood

Tibalah moment ini,  hampir 2 tahun saya menyusui Emil, rasanya baru kemarin Emil lahir, saya susui hingga badannya yang awalnya kecil ringkih sampai menjadi bulet padet, padahal hanya konsumsi susu ASI saja, hampir gak percaya saya bisa memberikan ASI ekslusif dan sekarang adalah waktunya saya harus menyapih.

Baca :Bapak memandikan  bayi, ibu meng-ASI

Beberapa bulan lagi usianya sudah 2 tahun. Saya komunikasikan hal tersebut kepada pak suami, pak suami pun menyanggupi untuk bekerjasama.

Selama ini Emil selalu tidak bisa lepas dari menyusu langsung ke saya, setelah makan harus nenen, mau tidur harus nenen, galau, gelisah dan bête si bayi juga minta nenen dan nenen pun sudah menjadi pegangan hidup si bayi.

“mimik..mimik..mimik” kalimat mantra Emil untuk membuka gentong ajaib

Untungnya selama menyusui, Emil selalu memilih tempat untuk menikmati ASI nya, sehingga bila keadaan rumah ramai atau kedatangan tamu. Emil tidak memaksa ibunya untuk membuka gentong (payudara) di tempat, dia cukup menarik baju saya untuk menuju kesuatu tempat, yaitu kamar.

Mungkin karena saya selalu bilang “ kalau mau mimik di kamar saja ya?”

Bagaimana jika dalam perjalanan atau dalam kendaraan umum?

Saya pernah terpaksa menyusui Emil di mobil travel yang sedang dalam perjalanan ke luar kota, namun untung nya Emil menyusu hanya sebentar , dia lebih senang melihat jalanan.ketika itu usia Emil belum 6 bulan.

Namun menginjak usia 6 bulan lebih dan sudah MPASI, Emil memilih lebih banyak tidur dan ketika sampai dia minta menyusu ke ibunya.

Kembali ke proses menyapih, Banyak teori cara menyapih yang saya baca baik dari media, sharing grup maupun dari pengalaman teman dan keluarga, namun dari kesemua cara menyapih yang bertebaran itu, yang terpenting menurut saya adalah menyiapkan diri saya sendiri, semua teori itu tidak akan berhasil jika dari diri kita sendiri masih tidak tega dan belum ikhlas. Dan itu juga sempat terjadi dengan saya. Sehingga butuh waktu lagi untuk menguatkan hati sebelum deadline lepas ASI benar benar terlaksana.

Seperti waktu awal saya menyapih Emil, saya masih dalam kondisi yang masih  belum siap mental, sehingga gagal. Ketika itu saya masih banyak yg ingin dikerjakan dan karena tidak mau direpotin Emil serta tidak ingin terlalu lama bermain drama, akhirnya saya menyodorkan PD saya.Setelah gagal menyapih, kemudian saya coba lagi, kali ini saya mulai secara bertahap, dimulai dengan menyapih siang hari.

Baca : Mamak ratu tega – menyapih siang hari

Bagaimana caranya?
Di otak saya cara nya random sekali, ga ada kiat dan tips khusus yang waow amazing. saya ini orangnya gak telatenan maksudnya di sini adalah bukan ibu yang kalo berbicara harus halus dan lemah lembut sekali. Segala teori yang pernah saya baca tentang bagaimana menyapih dengan cinta tanpa oles ini itu,  saya kesampingkan.

Fokus saya adalah “Emil harus di sapih, sudah waktunya lepas ASI”.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat gagal menyapih itu mungkin salah satunya karena saya terlalu banyak membaca kiat menyapih yang sukses dan lebih ter fokus ke pengalaman menyapih yang melow sehingga keikut gak tegaan.

Dan akhirnya saya pakai cara sendiri dan bertahap,mungkin gabungan antara WWl ( Weaning With Love) dan menyapih secara paksa. Karena saya tidak pakai bahasa cinta ke bocah, saya hanya bicara spontan saja, tanpa mengolok olok, membentak ataupun menakut nakuti.

“ Emil udah besar loh ya, udah ga nenen lagi, ganti air putih ya atau susu botol ” dan reaksi si bocah , nangis.

Untuk tahap ini saya benar benar harus tega, jangan patah dan menyerah . saya cuman bisa elus-elus punggung Emil. Oke tahap lepas nenen siang hari berhasil.

Menyapih malam hari

Menyapih malam hari adalah bagian yang cukup sulit dan saya pun gagal berulang kali. Saya selalu menyodorkan payudara (PD) saya setiap malam jika Emil terbangun, karena saya tak ingin tidur terganggu. Namun akhirnya saya bulatkan tekad kembali, minggu ini harus berhasil kalau tidak..

“Pak kalau Emil masih belum bisa disapih, besok atau lusa antarkan ke dukun bayi ya, minta suwok” kata saya pada saat itu ke pak suami.

Saya tahu istilah suwok itu dari percakapan kawan yang anaknya disapih lewat suwok, datang ke dukun bayi atau orang yang ahli menyapih, di berikan doa doa tertentu lalu sang ibu di berikan ramuan agar bayi lupa menyusu ke ibunya.

Keesokan harinya

“gimana hari ini jadi ke dukun bayi?” Tanya pak suami

Dan akhirnya saya urungkan, karena saya ingin mencoba cara terakhir yang sempat saya ingin hindari, sesuai cara tetangga dan saudara yang telah berhasil menyapih anaknya, yaitu dengan mengoles sesuatu yang tidak mengenakan di bagian payudara.

Tetangga cerita waktu menyapih anaknya PD nya diolesin balsam atau minyak kayu putih, wihhh..serem ah gak aman kasihan si  anak, ga tega saya kalo balsam. Apa dong alternative nya?

Saya akhirnya pergi ke dapur , mengambil sesuatu yg muncul di kepala saat itu,  kopi saya oleskan di PD, saya berpikir dengan rasa kopi yang pahit mungkin membuatsi bocah kepahitan lalu lepas, berhasil sih tapi Emil masih terus mencoba, dan ternyata dia malah menikmati. Wah..wah,,apalagi ya?

Saudara di desa kemaren sempat cerita, waktu meyapih anaknya PD nya dikasih olesan tanaman Sambiloto atau Mahoni, Sambiloto dan Mahoni itu pahit  makanya bikin anak langsung lepas saat itu juga. Oh ya? Tapi nyari tanaman tersebut dimana kalo di kota?

Akhirnya saya racik garam dan merica, kenapa kok garam dan merica? Menurut saya garam itu pekat rasanya sedang kan merica untuk rasa pedas yang ringan di lidah dan baunya juga menyengat, jadi menurut saya itu akan membuat si anak kapok menyusu lagi, sangat tidak enak.

Garam halus dan sedikit merica saya aduk dengan sedikit air hingga seperti pasta lalu saya oleskan di PD secukupnya. Hasilnya si bocah keasinan, nangis sambil menjulurkan lidahnya, saya langsung cepat cepat kasih air putih. Harus siap air putih  sebagai pertolongan pertama, untuk menetralkan rasa di lidahnya.

Selanjutnya si bocah masih nekat. Tapi karena mencium bau merica yang menyengat dan kapok kena rasa garam yg asin sekali. Emil menolak untuk menyusu di PD saya.

” mau lagi?, ini pedes loh gak enak” dan si bocah hanya menggelengkan kepala dengan kuat. setelah itu saya lanjutkan komunikasi ” Emil minum ini saja ya, udah besar kok, itu lihat giginya udah banyak udah gak pantas nenen lagi, susu nya ibu sudah kurang buat kamu” sambil mengelus punggung dan memeluk.

” minyumm..nyum nyummm ” emil meminta gelas air putih nya

Ternyata olesan garam merica berhasil buat si bocah geleng geleng kepala . Dan ritual nenen Emil terganti dengan peluk dan tepuk tepuk punggung si bocah, main dan nyamil sampai lelah, youtuban atau hanya pegang PD saya sampai dia tertidur.

Masih ada rasa gak tega sebetulnya, karena ini adalah terakhir ia menyusu pada ibunya untuk selamanya, anak bayi sudah besar.

Saya memilih cara tersebut karena Emil semakin nekat demi bisa menyusu ke dada saya, jadi kalau hanya lewat bisikan cinta saja rasanya gak cukup dan untuk mempersingkat waktu agar emil tidak menangis selalu, akhirnya saya gabungkan dengan cara paksa.

Berikut beberapa hal yang saya terapkan dalam proses menyapih Emil

  1. Kondisi ibu dan anak sehat, pastikan kondisi anak dan ibu sehat tidak sedang sakit atau habis sakit. Karena di khawatirkan kondisi anak akan semakin sakit jika terus di lakukan proses menyapih, apalagi jika nafsu makan si anak kurang baik, sebaiknya ditunda dulu.
  2. Komunikasi, sebelum memulai menyapih saya selalu komunikasikan ke anak, walau dia acuh saja seperti tidak menanggapi itu tidak masalah, yang penting terus komunikasikan, beri kata kata positif “ kamu bisa” , “ kamu udah besar, udah pintar minumnya pake gelas ini aja ya“ dan kalimat kalimat positif yang biasanya spontan saja kita ucapkan. kadang anak sampai menimpali dengan mengiyakan “ he em”.
  3. Mengetahui makanan / minuman kesukaaan anak, paling tidak si anak sudah mulai menyukai susu UHT / susu formula sebagai pengganti ASI. Kalau saya selalu menyiapkan segelas air putih ketika proses menyapih di mulai, karena sebagai pertolongan pertama untuk menghilangkan rasa tidak nyaman pada lidah anak ketika menempel pada PD ibu nya yang sudah di olesi aroma dan rasa yang tidak enak
  4. Lakukan secara bertahap, mulailah menyapih di siang hari, ajak anak berkegiatan yang memungkinkan anak lelah dan lupa dengan kegiatan menyusunya. Bagian ini memang butuh kerjasama dengan anggota keluarga yang ada di rumah. Selain itu menyapih secara bertahap juga agar menghindari payudara ibu sakit karena bengkak, kalau saya tidak sampai bengkak , hanya sedikit penuh tapi tidak sakit dan saya biarkan, hilang dengan sendirinya.
  5. Sebaiknya pilih bahan yang aman untuk menyapih anak, karena menyusui itu kan ada kontak langsung kulit ibu ke mulut anak jadi sebaiknya pilih bahan bahan yang alami saja dengan aroma rasa yang pekat dan kuat, kalau saya pilih bahan bahan yang ada di dapur seperti kopi, garam, merica, jahe dan kunyit, atau kalau ada sambiloto dan kulit mahoni itu bisa juga, kata saudara rasanya pahit sekali.
  6. Berdoa dan berpikiran positif.

Bagaimana dengan mengolesi lipstick dan pura pura berdarah?

Jujur saya hampir tidak terpikirkan untuk memberikan lipstick atau sesuatu yang membuat payudara saya luka untuk menakuti anak. Karena dalam pikiran saya saat itu saya hanya ingin membuat anak tahu bahwa susu ibunya sudah tidak lagi enak di lidahnya, bukan untuk membuat anak takut.

Untuk pelaksanaan nya adalah :

  1. Setiap malam sediakan mangkok kecil berisi pasta ramuan yang telah di buat, kalau saya garam + merica. Mangkok berisi pasta garam + merica ini digunakan untuk sewaktu mengoles bagian PD ibu ketika si anak hendak menyusu malam harinya atau terbangun ketika tengah malam. Gak tega rasanya, sedih memang tapi saya harus kuat. Kalau tidak, maka akan gagal lagi.
  2. Ketika anak mulai menyusu dengan segera ia pasti akan kaget karena rasa ASI tidak sesuai harapannya, anak akan menangis dan saat itu segera berikan air putih sebagai penetral rasa di mulut anak dan berikanlah pelukan, sambil terus beri  komunikasi positif. Seketika anak akan diam dan kembali tidur.
  3. Berikan curahan perhatian lebih untuk anak. Ayah dan ibu nya sebaiknya selalu dekat, peluk serta sentuh anak lebih sering. Kalau saya biasanya setiap dia bangun pagi atau siang kami selalu bilang ke Emil “sini peluk dulu sini, anak hebat”. setelah itu gendong sejenak. Pastikan ayah juga ikut berperan karena agar anak mengerti bahwa kasih sayang datang dari kedua orang tuanya.
  4. Berikan apa yang dia mau,maksudnya disini adalah kasih tawaran selain ASI ibunya, mungkin makanan atau minuman yang dia suka, jalan jalan keluar rumah namun jika anak masih ngotot  meminta ASI, bisa coba oles lagi pasta tersebut atau kalau saya, saya tunjukan sambil bilang “ini pedes loh, kamu mau” seketika Emil menggelengkan kepala, kalau pun nanti dia akan trauma rasa pedas di kemudian hari , menurut saya tidak masalah. setelah itu berikan lagi pengertian seperti ” kamu udah besar, udah ga nenen lagi, ASI ibu sudah kurang dst.”
  5. Kira kira kurang dari 2 bulan saya melakukan itu, dan akhirnya Emil tertidur sendiri tanpa menyusu, tentunya ayah juga sebaiknya ikut berperan karena biasanya sang anak akan banyak permintaan sebagai pengantar dia tidur, jadi lakukan saja dengan sabar, karena anak akan lebih rewel.
  6. Selalu sediakan air putih dalam gelas berpenutup di samping tempat tidur si kecil karena pasti setiap malam dia akan terbangun dan butuh minum.

Bisa gak sih selain air putih? bagi saya sendiri saya lebih baik air putih, secara rasa netral selain itu  juga agar anak terbiasa minum air putih. Sedang kan jus atau susu saya beri di waktu aktif nya anak,bukan ketika ia sedang tidur, karena khawatir akan merusak gigi nya. Selain itu pemberian air tidak di dalam dot namun di dalam gelas bercucuk  ( sippy cup ).

Sebagian ibu mungkin menghindari menyapih secara paksa karena dikhawatirkan akan meninggalkan trauma psikis pada anak, sehingga sebagian ibu lebih baik menunggu anak lepas sendiri secara alami atau menggunakan cara menyapih sesuai yang disarankan.

Namun kembali lagi ke masing masing ibu, karena setiap ibu yang menyusui pasti mempunyai alasan dan cara tersendiri untuk menyapih buah hatinya. Dan akan lebih baik lagi jika mendapat saran dari dokter anak yang memang paham dengan kondisi anak.

Alhamdullilah, tepat di usianya yang ke 2 tahun Emil lepas ASI secara full, setiap akan tidur masih memeluk saya, meringkuk di dada saya, di ketiak, pegang dada saya sampai dia nyaman dan tertidur, kadang juga suka cium cium pipi saya.

Ibu sabarlah. Semua ini akan ada akhirnya maka nikmatin saja setiap prosesnya.

 

 

2 thoughts on “Menyapih, Menyedihkan Namun Harus Dilakukan”

  1. Wah, hebat ya Emil bisa tahan sama kopi pahit, MasyaAllah.. menyapih memang nano2 banget ya mba rasanya, kadang malah emaknya yg mellow.. saya habis nulis ttg menyapih jadi kebayang2 muka si kecil saat sedang menyusu, hehe

    1. iya mba bener gak tega sebetulnya, apalagi kalo liat wajah damai kalo lagi nyusu. terimakasih sudah berkunjung ya mba 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *