Bapak Memandikan Bayi, Ibu meng-ASI

motherhood

“ Kalo ada daun katuk di buat sayur beningan juga enak, itu bagus buat ASI, jangan lupa makan yang banyak jangan lupa minum susu “ begitu kata ibu saya dari ujung telepon, cukup lama bapak dan ibu saya telpon menanyakan kabar cucu pertamanya yang belum bisa mereka tengok sejak lahiran kemarin.  Begitu juga dengan ibu dan bapak mertua yang juga sama,  belum bisa menengok cucu kesebelasnya.

Maklum kedua orang tua kami memang tinggal berjauhan bapak dan ibu saya berada di Kalimantan, mertua saya berada di Bali sedangkan kami tinggal di Pulau Jawa. Sehingga untuk menuju kemari butuh biaya yang tidak semurah ongkos angkutan antar kota. Jadilah tanpa bantuan mereka, kami berdua merawat si kecil yang masih merah hanya dengan berbekal tutorial dari internet dan kursus singkat dari tetangga depan rumah.

Sempat kepikiran memerlukan rewang ( asisten rumah tangga ) tapi akhirnya kami urungkan dengan berbagai pertimbangan, kita perlu menghemat pengeluaran, akhirnya kami pun berbagi tugas, saya menyusui si bayi sedangkan pak suami setiap pagi dan sore hari  memandikan si bayi, untuk urusan rumah saya lakukan sebisa saya, walaupun lebih banyak peran pak suami dari belanja sampai bersih bersih rumah.

Sejak si bayi lahir, saya sama sekali belum bisa memandikan, lebih tepatnya saya masih takut memandikan tubuh kecil nya yang masih ringkih, untungnya pak suami sudah tidak bekerja kantoran lagi, sehingga ia selalu di rumah dan mempunyai waktu yang fleksibel antara pekerjaan pribadi, mengurusi saya dan si bayi. Berbekal kursus singkat 2 hari dari tetangga, pak suami berhasil memandikan bayi.

“kalo gak di paksa dan gak ada kemauan, kapan bisa nya kita”

Bagaimana dengan masak memasak? Lagi lagi pak suami yang menghandle atau saya cukup membeli lauk matang saja, kalau lagi beruntung tetangga mengirimkan sayuran matang lengkap dengan lauknya.

Ini namanya nikmat mana lagi yang engkau dustakan.

Kembali ke percakapan telepon dengan ibu saya, ibu saya menyarankan agar saya perbanyak konsumsi makanan, salah satunya  yaitu daun katuk, karena menurut ibu saya, bayi laki laki itu menyusu nya kuat sehingga sang ibu juga harus kuat dan banyak asupan makannya. Okelah saya masih belum paham kenapa bayi laki laki lebih kuat menyusuinya dibanding bayi perempuan.

Tahapan menyusui pertama kali memang menyenangkan , namun berselang sekitar 2 minggu  setelah kepulangan dari RS bersalin saya merasa kesulitan dan kesakitan, padahal saya menerapkan apa yang sudah diajarkan di kursus singkat dengan dokter anak, pak suami sampai bingung, saya hanya nyengir menahan sakit. Saya coba lagi, mungkin perlekatan si bayi ada yang salah atau masa iya ASI saya kurang sehingga si bayi menyedotnya secara kuat sehingga menyebabkan PD ( payudara ) saya kesakitan dan memerah.

Ditengah kesakitan dan ketakutan menyusui  saya sempatkan mencari informasi, dan muncullah istilah Mastitis ( radang payudara ) dalam artikel kedokteran. Dimana ciri cirinya hampir sama dengan yang saya rasa dan sering dialami oleh para ibu yang menyusui.

Kesakitan saya makin menjadi, sakit hingga ubun ubun dan seluruh badan rasanya menggigil. Saya takut menyusui si bayi, saya takut kesakitan lagi tapi saya juga takut si bayi kelaparan serta kekurangan nutrisi. Pak suami menyarankan memberikan susu formula, tapi saya menggelengkan kepala.

Berbagai cara saya saya lakukan untuk mengurangi sakit, seperti mengompres dengan air hangat  setiap akan dan setelah menyusui.Hampir setiap hari saya begini, walaupun tidak banyak membantu, paling tidak mengurangi sakit yang saya rasakan, walaupun tetap saja saya bercucuran air mata ketika waktu menyusui tiba.

Melihat saya selalu bercucuran air mata, pak suami kembali bingung dan menawarkan ke dokter atau bidan, kembali lagi saya menggelengkan kepala. Karena saya merasa masih bisa dan kesakitan ini hanya sementara.

“kalau ini berlangsung lama mungkin saya akan ke dokter sedangkan ini masih beberapa hari”

Karena menurut yang saya baca, hisapan bayi dapat membantu mempercepat penyembuhan. Dengan menahan sakit akhirnya saya teruskan meng-ASI si bayi.

Suatu ketika saya merasa PD saya penuh namun saya takut membangunkan si bayi yang sedang tertidur pulas untuk mulai menyusu, saya takut mulut bayi menempel dan menghisap , salah satu cara menurut pikiran saya saat itu , adalah memindahkan ASI ke botol susu agar bayi tidak menempel langsung pada kulit saya, paling tidak untuk waktu jeda, selagi saya bersiap akan berurai air mata, karena siapa tahu si bayi akan meminta nempel langsung ke PD ibunya karena tidak puas dengan Asi perahan di botol susunya.

Karena tidak punya, secara mendadak saya minta tolong pak suami  membelikan pompa ASI di toko perlengkapan bayi terdekat, sementara menunggu saya memerah PD dengan tangan saya, langsung kebotol susu.

Selang beberapa waktu pak suami pulang dengan membawa bungkusan, berisi pompa asi. namun ternyata pompa asi yang dibeli pak suami adalah pompa asi model lama yang berbentuk terompet bewarna merah.

“hanya ini yang paling murah di sana, dan sesuai sama uang yang aku bawa”

Dan saya pun punya kegiatan baru, memerah asi dengan pompa terompet, selagi si bayi tertidur pulas, Asi yang tertampung paling tidak bisa mengurangi si bayi melekat lama pada PD saya.

Kurang dari 1 bulan, akhirnya kesakitan saya berangsur hilang, saya mulai nyaman menyusui lagi, tanpa ada kesakitan dan bengkak di mata setiap pagi. Walaupun saya bukan pekerja kantoran, memerah Asi masih saya lakukan. Paling tidak mengurangi bengkak ketika ASI di PD penuh. Pompa asi bentuk terompet dadakan sudah tergantikan dengan pompa asi yang sedikit lebih baik dan modern walau tetap saya pilih yang manual, karena yang elektrik masih dirasa terlalu mahal di kantong saya.

Oiya saya pernah di sarankan oleh tetanga untuk pakai lapisan karet pelindung puting Payudara, namun atas saran kakak ipar di desa sebaiknya jangan, itu akan membuat sedotan bayi terhadap asi berkurang, biarlah bayi menghisap langsung, tahan sakitnya sedikit,kamu pasti bisa dan Alhamduliah kekhawatiran saya akan tidak cukupnya asi dan tidak bisanya meng-Asi, tidak terjadi dan si bayi semakin bulet, padahal ketika lahir si bayi kecil dan ringkih, beratnya hanya 2,3 kg saja.

Ibu saya yang mendengar saya cerita, hanya tertawa.

“ ya ibu dulu juga begitu berdua saja sama bapakmu, kamu masih bagus ada suami yang masih membantu, lhaa ibu sendirian, bapakmu kerja di lokasi, jauh lagi. waktu menyusui juga begitu ibu takut sekali melihat mulutmu, apalagi sebagian gigimu sudah ada yang tumbuh, rasanya seperti diiris dan ibu cuman meringis merasakan kamu menyusu..hahahah”

Ah kita sama buk..tosss!!

8 thoughts on “Bapak Memandikan Bayi, Ibu meng-ASI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *